Laman

Tempat Bersejarah dan wisata Di Berau

Tempat Bersejarah dan wisata Di Berau
Matahari hampir tenggelam di balik gunung di Kampung Long Ayap, hulu Sungai Segah, pedalaman Berau. Seorang perempuan mengenakan kain batik cokelat mandi di pinggir kali dalam terpaan sinar senja mentari di ufuk barat. Pelan-pelan cahayanya meredup di antara Perahu-perahu yang bersandar di “dermaga” kampung orang Punan dan Segai ini.

Kurang lebih 120 kilometer dari tempat itu, tepatnya di ibu kota Kabupaten Berau Tanjung Redeb yang terletak di tepian Sungai Berau, sang surya tengah kembali ke peraduannya–pertanda. Malam telah datang.
Malam adalah rezeki. Begitu kata para pedagang minuman dan makanan di tepian, yang mulai mengatur gerobak-gerobak dorongnya dan menjajakan dagangannya bagi anak muda sampai orang tua yang santai menikmati suasana tepian sungai.
Kegelapan malam tak mampu mengusir suasana tepian sungai yang kian ramai. Apalagi, di malam Mingu. Dari tempat itu, sesekali terlihat dermaga Museum Sambaliung dan tulisan Museum yang dibentuk dari bilah-bilah papan yang berada di seberang tepian sungai. Masa lalu kerajaan dan sejarah Berau terhampar di sana, juga di Museum Gunung Tabur. Saksi-saksi bisu itu akan menuturkan banyak hal tentang masa lampau.
Kabupaten Berau yang terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur, sejak abad XIII sudah memiliki pusat permukiman yang disebut Banua. Setiap Banua dipimpin oleh seorang kepala adat atau kepala suku sebagai pemimpin pemerintahan sekaligus pemimpin adat dan agama.
Memasuki abad XIV, semua banua yang ada di wilayah ini sepakat untuk mempersatukan wilayahnya di bawah pimpinan seorang raja. Maka berdirilah kerajaan Berau dengan Baddit Dipattung yang bergelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan istrinya bernama Baddit Kurindan yang bergelar Aji Permaisuri sebagai raja dan ratu Kerajaan Berau pertama.
Berau yang memiliki wilayah seluas 24.201 kilometer persegi dengan ibu kota Tanjung Redeb dan bisa dijangkau dari ibu kota Provinsi Kalimantan Timur Samarinda dengan jalan darat dalam waktu sekitar 12 jam ini, juga punya wisata kota yang cukup lengkap.
Para penggemar peninggalan bersejarah dapat menyusuri masa lalu kota dan kabupaten Berau dengan mengunjungi Keraton dan Museum Sambaliung yang menyimpan jejak-jejak bersejarah peninggalan kerajaan Sambaliung dengan rajanya yang terakhir Sultan M. Aminuddin (1920-1959). Tempat ini memiliki koleksi unik yang ada di halaman depan berupa dua tiang kayu ulin berukir aksara asli Suku Bugis yang dipercaya adalah merupakan peninggalan dari pengikut Raja Alam yang berasal dari turunan Bugis Wajo. Menurut penjaga museum, aksara itu berupa aturan-aturan jika rakyat melintasi keraton.
Berhadapan dengan Keraton Sambaliung, dibelah oleh Sungai Berau, membujur Keraton Gunung Tabur. Tempat yang bisa dijangkau dalam waktu sekitar 20 menit melalui jembatan Segah atau tiga menit jika memilih naik ketinting ini, dikenal sebagai menjadi Museum Batiwakkal. Di sini tersimpan sekitar 700 koleksi berharga berupa benda sejarah, keramik, benda arkeologis, etnografis, dan naskah. Museum ini dibangun pada 1990 dan diresmikan pada 1992. Para pengunjung juga dapat melihat kediaman Putri Keraton Gunung Tabur.
Bagi yang ingin menyaksikan perkampungan suku asli Kabupaten Berau, yaitu Suku Banua yang berada di desa Bangun dan Bebanir, silakan berkunjung ke tempat yang berjarak sekitar 10 kilometer dari ibu kota kabupaten. Dengan menggunakan kendaraan darat waktu tempuhnya sekitar 15 menit.
Kalau mau lebih asyik lagi, lebih baik menggunakan ketinting, karena kita akan dibimbing melalui Sungai Berau dan Sungai Bangun. Nah, kampung suku Banua itu berada di Sungai Bangun. Di tempat ini, kita bisa menyaksikan dan kalau mau menikmati kehidupan ala suku Banua yang masih bersahaja.
Sementara itu, jejak-jejak peninggalan masa penjajahan Belanda bisa dinikmati di Teluk Bayur. Di tempat ini kita akan dibawa ke masa kejayaan kota yang di masa lalu menjadi pusat industri batubara yang ditandai dengan hadirnya perusahaan Stenkollen Matschappy Parapattan (SMP). Perusahaan penambangan batu bara yang berdiri pada 1912 itu menandai terbukanya Teluk Bayur bagi para pendatang.
Di masa jayanya, sekitar 1930, di Teluk Bayur berdiri sebuah kota modern yang memiliki fasilitas lengkap. Mulai dari sarana transportasi berupa kereta api untuk mengangkut para petinggi SMP atau para saudagar Eropa yang tinggal di bagian Timur dan Selatan kota dan para kuli kontrak, serta lori untuk mengangkut barang-barang kebutuhan dan batu bara hingga sarana rekreasi. Bahkan di Teluk Bayur kala itu sudah ada taman kota, gedung bioskop, dan rumah judi.
Sayangnya, kini tinggal sisa-sisa kejayaan kota Teluk Bayur yang mulai ditinggal para penghuni Eropa sekitar 1954 seiring dengan ditutupnya SMP. Lihat saja, kantor SMP yang sudah beralih fungsi sebagai Kecamatan Teluk Bayur, Ball Room (Rumah Bola) yang berdebu dan dipenuhi coretan-coretan, gedung bioskop yang tak terawat, serta lapangan bola yang dipagari oleh tonggak-tonggak kayu berusia ratusan tahun. Kita juga masih bisa melihat sisa industri batu bara berupa terowongan lori pengangkut batubara dan sumur batubara. Kondisinya sangat memprihatinkan.
Lalu, untuk para penggemar olahraga air, silakan datang ke Kepulauan Derawan yang perairan sekitarnya merupakan tempat tinggal lebih dari 347 jenis ikan karang dan 222 jenis hewan karang. Terdapat juga berbagai invertebrata termasuk biota yang dilindungi, yaitu lima jenis kima, dua jenis penyu (hijau dan sisik), ketam kelapa, ikan duyung. Bahkan lima pulau kecil yang tak berpenghuni ini menjadi tempat bertelur penyu hijau yang terbesar di Asia Tenggara. Tak heran bila kemudian di setiap titik penyelaman, para penyelam mengatakan, mereka menemukan taman karang.
Tempat wisata bawah laut di Kabupaten Berau yang juga wajib dikunjungi adalah perairan Sangalaki dan sekitarnya. Pasalnya, yang menurut para ahli ekologi kelautan, keindahan taman laut dengan keanekaragaman biota laut yang hidup di sini termasuk nomor tiga di dunia. Apalagi di pulau Sangalaki yang luasnya hanya sekitar dua kali luas lapangan bola terdapat Sangalaki Dive Resort serta stasiun monitoring penyu sebagai bagian dari program pelestarian penyu.

Kalau Anda masih punya waktu, berkunjung ke Pulau Kakaban yang merupakan laguna dari sebuah atol–terbentuk dari karang lebih dari dua juta tahun lalu–rasanya harus masuk agenda wisata Anda. Soalnya, di tempat ini kita bisa menyaksikan gua-gua batu karang yang dimanfaatkan oleh burung-burung walet sebagai rumahnya, hasil proses geologis ribuan tahun serta danau yang airnya tidak seasin air laut di sekitarnya.
Yang menarik, di danau ini hidup biota yang biasa ditemukan di air laut, seperti alga, anemon laut, ubur-ubur, spons, ketimun laut atau teripang, kepiting dan berbagai jenis ikan kecil lainnya. Danau Kakaban merupakan “saudara” dari danau yang ada di Palau, Kepulauan Mikronesia. Bedanya, jumlah dan jenis spesies biota yang dikandung Danau Kakaban lebih beraneka ragam dan istimewa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar